Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan

Perayaan Kemerdekaan di Desa Tiudan ada lambang 212 dan gamabar Gus Dur. Tanggal 17 agustus, menjadi tanggal yang istimewa bagi setiap warga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tanggal itu pertama kali dikumandangkannya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bung Karno dan Bung Hatta sebagai eksekutor, membacakan teks proklamasi kemerdekaan.

Untuk itu tanggal 17 agustus memiliki makna tersendiri bagi setiap elemen bangsa Indonesia. Proklamasi sendiri juga sebagai simbol pengakuan diri bahwa Negara Indonesia telah berdiri dan berdaulat.

Oleh sebab diatas, ketika mendekati atau sesudah tanggal 17 agustus banyak perayaan-perayaan yang dilakukan masyarakat Indonesia. Perayaan ini biasa disebut dengan agustusan karena bertepatan pada bulan agustus. Atau juga Tujuh Belasan karena memang bertepat pada tanggal 17. Namun yang lebih umum biasa disebut dengan hari kemerdekaan.

Dibeberapa daerah di Indonesia saling berlomba-lomba dalam perayaan kemerdekaan indonesia. Salah satu desa di kabupaten Tulungagung, atau lebih tepatnya di desa Tiudan Kecamatan Gondang. Juga tak mau ketinggalan untuk merayakan hari tersebut.

Perayaan kemerdekaan Indonesia kali ini dilakukan berupa pawai mengelilingi desa. Setiap RT mengirim delegasi untuk tampil sebagai peserta pawai. Dengan berbagai macam artibut para peserta menghibur masyarakat desa. Dan juga masyarakat luar desa yang datang khusus ke desa Tiudan untuk melihat pawai ini.

Info menarik lainnya : Asal, Sejarah, Makna, Kostum, Properti Tari Piring [Ada Gambar+Video]

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan

Sekilas Desa Tiudan

Desa Tiudan termasuk desa yang lumayan asri, masih banyak tanaman hijau tumbuh disekitar desa ini. Desa yang terletak di kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung ini dikeliling dengan bukit-bukit hijau.

Selain itu, Sumber air di desa ini juga melimpah. Terbukti dengan dibangun sebuah waduk dipojok desa yang penuh berisi air. Air tanah pun juga banyak, Sehingga setiap rumah hanya memanfaatkan air sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan
Sumber : www.tripmondo.com

Desa ini juga terkenal dengan industri batu bata. Setiap rumah hampir memproduksi batu bata. Di wikipedia tertulis 75% dari penduduk desa sebagai pengrajin batu bata. Bisa dikatakan mata pencaharian utama desa ini adalah dari membuat batu bata.

Walaupun Desa Tiudan terletak di daerah bukit namun penduduk desa ini lumayan padat. Rumah juga mulai rapat dibandingkan 10 tahun kebelakang. Wikipedia menulis jumlah penduduk Desa Tiudan mencapai 8.352 Jiwa.

Dengan penduduk yang lumayan banyak, desa Tiudan lumayan terkenal sebagai desa yang sering mengadakan kegiatan-kegiatan. Dari peringatan hari besar islam (PHBI) sampai peringatan hari besar nasional (PHBN) selalu ada kegiatan.

Kegiatan bisa berupa pawai, lomba-lomba, warung gratis, dan pengajian pada peringatan hari besar islam.

Nah, untuk peringatan hari kemerdekaan Indonesia tahun 2015, desa Tiudan mengadakan pawai akbar mengelilingi desa.

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan
http://www.thepicta.com

Persiapan pawai kemerdekaan

Jauh sebelum hari pelaksaan pawai. Setiap RT mempersiapkan minimal sebuah team untuk meramaikan pawai.

Team tersebut beranggotakan masyarakat lingkungan RT. Dari anak-anak, remaja bahkan orang tua pun tak mau ketinggalan untuk meramaikan.

Setelah sebuah team terbentuk. Setiap team melakukan latihan di lingkungannya masing-masing.

Ada yang latihan baris-berbaris, memainkan music tradisional, mempersiapkan konstum. Selain itu, ada juga yang mempersiapkan patung-patung besar yang terbuat dari bambu dibalut dengan kertas.

Semua biaya persiapan setiap team ditanggung oleh RT masing-masing. Biasanya ketua RT akan mendatangi masing-masing rumah untuk mengambil uang iuran. Biaya iuran tergantung dari kesepakatan RT masing-masing.

Hari pelaksanaan pawai perayaan

Setelah para peserta pawai latihan guna mempersiapkan diri untuk menghibur masyarakat. Selanjutnya yang ditunggu-ditunggu adalah hari H (pelaksaan).

Pada hari perlaksanaan pawai perayaan kemerdekaan di Desa Tiudan, semua elemen masyarakat bahu-membahu untuk mensukseskan kegiatan. Dari para panitia, petugas keamananan, pejual makanan pinggir jalan. Dan seluruh masyarakat yang menonton juga memiliki sumbangsih untuk mensukseskan kegiatan pawai ini.

Jalur pawai kemerdekaan

Jalur yang dilewati para peserta pawai kemerdekaan yaitu mengelilingi desa. Start dan finish dari Masjid Jami’ Tiudan. Hampir semua jalan setiap dusun dilewati oleh para peserta pawai.

Petugas keamanan dari polisi dan banser NU saling bahu-membahu untuk mengamankan acara. Sehingga acara dapat berjalan dengan lancar tanpa ada kejadian yang tak diinginkan satupun.

Dari kostum yang unik sampai patung yang besar

Para peserta pawai perayaan kemerdekaan di Desa Tiudan ternyata kreatif. Mereka menghibur masyarakat yang menonton dengan berbagai macam penampilan yang menarik.

Ada yang berpakaian layaknya suami istri dengan didudukan disebuah kursi pengantin. Ada pula yang berpakaian layaknya tentara dengan membawa atributnya serta ornamen tank. Dan masih banyak konstum yang menarik lainnya.

Selain konstum ada yang memainkan kesenian budaya Indonesia, seperti reog ponorogo.

Dan yang paling menarik ialah patung-patung besar, ada yang berbentung beduk yang sangat besar bergambar gus dur. Ada juga tumpeng raksasa.

Dokumentasi acara

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan

Kelompok petani juga tak mau ketinggalan untuk meramaikan pawai perayaan kemerdekaan di Desa Tiudan. semangat 45 pakdhe…

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan

Memakai pakaian tentara, biar ketuluran semangatnya para penjaga kedaulatan Negara Indonesia.

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan

Ada juga yang memakai pakaian adat. Tapi yang jadi pertanyaan pakaian adat mana ya?

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan

Para anggota kura-kura ninja juga tak mau ketinggalan meramaikan. Ciaat ciat no Jutsu hee

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan

Kalau foto diatas sepertinya adat dari Bali ya (betul gak sih heehe).

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan

Tank raksasa karya masyarakat desa Tiudan. Kreatif bener yak.

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan

Grub marching band ala  Desa Tiudan. Walaupun pakaian sederhana, namun jangan remehkan suaranya. Mantap daah…

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan

Boneka Dambo raksasa juga tak mau kalah untuk meramaikan pawai.

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan

Oh.. Untuk yang ini kura-kura ninja chapter 2. sepertinya ini versi muda dari foto yang diatas tadi.

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan

Ini beduk raksasa karya Takmir Masjid Jami’ ar Rohim Desa Tiudan dan Masyarakat sekitar. Terlihat di beduknya terpampang foto almarhum Gus Dur. Pakaian yang memikul bedhu’ juga keren.

Ukuran bedhu’nya lumayan besar dan berat. Sehingga untuk mengangkat bedhu’ tersebut butuh kurang lebih 14 orang. Juga disamping bedhu’nya terdapat tulisan arab yang berbunyi Krajan, yang merupakan nama dusun tempat Masjid Jami’ ar Rohim berdiri.

Logo “212” dan Gambar Gus Dur Bersanding di Perayaan Kemerdekaan
Kapak raksasa bertuliskan 212 ala Wiro Sableng

Penutupan perayaan kemerdekaan di Desa Tiudan

Setelah seluruh peserta pawai kemerdekaan mengelilingi desa sekaligus menghibur masyarakat, maka acara telah usai. Acara pawai kemerdekaan berakhir sekitar pukul 5 sore.

Banyak juga terlihat yang menonton pawai ini tak sekadar dari Desa Tiudan. Ada yang dari desa tetangga bahkan ada jugadari beda kecamatan.

Seluruh masyarakat yang menonton pawai perayaan kemerdekaan di Desa Tiudan berangsur-angsur pulang ke rumah masing-masing.

Penulis sendiri memiliki kesan tersendiri dari pawai kemerdekaan kali ini. Selain membuktikan betapa kreatifnya warga Desa Tiudan, juga yang paling penting ialah kekompakan masyakarat desa.

Jarang sekali dijaman yang serba apatis seperti saat ini untuk mengajak masyarakat kompak membuat kegiatan. Apalagi masyarakat sendiri yang harus mengeluarkan uang untuk mensukseskan jalannya kegiatan.

Masyarakat Desa Tiudan mampu menunjukkan bahwa masih ada ruh gotong royong di masyarakat Indonesia.

Namun, ada juga yang perlu dikritisi mengenai pawai kemerdekaan di Desa Tiudan. Salah satunya adalah perihal pakaian beberapa peserta perempuan yang terlalu minim. Hal ini membuat hati penulis kurang sreg, terlebih banyak anak-anak kecil yang menonton pawai tersebut.

Selain itu, pesan dari makna kemerdekaan kurang tersampaikan melalui kegiatan ini. Sehingga acara ini hanya sebatas menguji kreatifitas dan bersenang-senang saja. Sedangkan, menurut penulis perlunya menanamkan makna kemerdekaan. Agar masyarakat semakin cinta dengan tanah air ini dan bersikap bijak.

Mungkin untuk kedepannya acara pawai semacam ini diisi sesuatu yang lebih bermakna. Sehingga para penonton sekaligus peserta tak sekadar bersenang-senang namun juga mengambil hikmah dari perjuangan para pendahulu bangsa.

Cukup sekian cerita dari penulis mengenai Meriahnya perayaan kemerdekaan di Desa Tiudan. Dengan Berbagai karya kreatif warga yang menghibur. Semisal beduk bergambar Gus Dur dan Kapak berlambang 212.

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top